Sumber Air Budidaya Ikan Discus, Kamu Pilih Mana?

Kualitas Air PAM untuk Budidaya Ikan Discus

IkanDiscus.com. Sumber Air Budidaya Ikan Discus, Kamu Pilih Mana?. Setiap jenis ikan membutuhkan parameter air yang berbeda untuk budidaya. Demikian pula dengan Budidaya Ikan Discus yang sangat sensitif terhadap kualitas air yang diinginkannya. 

Berhasil atau tidaknya seorang pembudidaya ikan discus tergangtung pada cocok atau tidaknya kualitas air dengan kebutuhan ikan yang dibudidayakan tersebut. Dari sekian banyak sumber air yang tersedia setidaknya ada 3 macam sumber air yang sering digunakan untuk budidaya discus, yaitu Air PAM, Air Tanah (Sumur), dan Air Hujan.

1. AIR PAM

Kualitas Air PAM untuk Budidaya Ikan Discus

Air PAM merupakan air yang paling baik untuk budidaya ikan discus / diskus, hal tersebut karena Air PAM telah melalui serangkaian proses penjernihan dan penyaringan. Serta telah melalui tahap pembersihan dari bakteri. Kandungan mineral dan zat kimia juga sudah distandarisasi sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan mengenai air minum.

Namun, kandungan klorin yang digunakan untuk pembersihan bakteri, masih terlalu tinggi untuk ikan meski aman untuk manusia. Sehingga perlu untuk dihilangkan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk budidaya ikan discus/diskus.

Cara menghilangkan kandungan klorin pada Air PAM

Cara menghilangkan kandungan klorin pada air PAM yaitu dengan melarutkan bahan antiklorin berupa kalium tiosulfat (K2 S2 O3) ke dalam air PAM sebanyak 1 butir untuk 25 liter air PAM dan diberi aerasi kencang agar merata.

Kandungan klorin pada air PAM juga dapat dihilangkan dengan memberikan aerasi selama +/- 24 jam sebelum digunakan. Kadar klorin yang aman digunakan untuk budidaya ikan discus < 0,01 ppm.

2. AIR TANAH (SUMUR)

Kualitas Air Tanah untuk Budidaya Ikan Discus

Air tanah (Sumur) merupakan salah satu sumber air yang paling banyak digunakan dalam budidaya ikan discus.  Untuk kualitasnya sendiri bervariasi karena tergantung dari lokasi dan jenis tanah serta kedalaman sumur tersebut.  Semakin dalam sumur tersebut, maka semakin berkurang kandungan mineral dan bakterinya serta semakin sedikit pula kandungan oksigennya.

Kebanyakan air sumur mengandung gas karbondioksida  (CO2) yang sangat beracun untuk ikan. Jika ikan diberi air sumur langsung yang baru keluar dari pompa, ikan akan mengambang dan sering mengakibatkan kematian karena keracunan karbondioksida dan kekuarngan oksigen.

Oleh karena itu, air tanah (Sumur) hendaknya ditampung terlebih dahulu selama 24 jam dan diberi aerasi kencang sebelum digunakan, hal tersebut bertujuan untuk menghilangkan gas karbondioksida dan menambah DO (Disolved Oxygen) atau oksigen terlaurt dalam air, dimana ikan membutuhkan oksigen terlarut minimal 5 ppm.

Sangat dianjurkan untuk air tanah agar bisa di cek dahulu ke laboratorium untuk mengetahui apakah kandungan bakteri dan zat berbahaya lainya yang dapat merusak kesehatan ikan.

3. AIR HUJAN

Kandungan Air Hujan

Air hujan hampir tidak mengandung mineral sehingga sangat soft, oleh karena itu, air hujan sering digunakan untuk menurunkan tingkat hardness (kesadahan). Cara menurunkan tingkat kesadahan adalah dengan mencampurkan air hujan dan air PAM atau air tanah (Sumur) yang digunakan untuk budidaya ikan discus.

Dosis pencampurannya tergantung pada kesadahan awal dari air yang akan digunakan untuk budidaya. Langkah awal adalah mencoba mencampurnya dan diaerasi kencang agar merata selama 1 malam. Kemudian diukur dengan alat pengkur kesadahan.

selanjunya jika kurang atau lebih dapat diatur dengan menambah atau mengurangiair hujan untuk mendapatkan angka yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan ikan discus.

Panampungan air hujan sebaiknya dilakukan beberapa saat setelah hujan turun agar tidak tercampur dengan debu dan bakteri yang kemungkinan terbawa dari genteng dan talang. Semua penampungan air hendaknya juga tertutp rapat agar tidak digunakan oleh nyamuk untuk berkembang biak.

3 Responses for Sumber Air Budidaya Ikan Discus, Kamu Pilih Mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *